Leganya tuh gini, kita kan udah kelas di 'tengah-tengah' nih (dalam kasus gue ini kelas VIII), maksudnya, kita udah bukan junior (yang kala itu masih bau SD), juga bukan senior (yang bentar lagi akan menghadapi sakratul maut alias guru laknat dengan seabrek soal TO, UN ato apalah itu).
Nah, jadi kelas dua gini nih yang greget-greget gaje!
Kadang saat kita liatin PLS (Pengenalan Lingkungan Sekolah), kita jadi kangen sama masa-masa saat kita dijadiin boneka kawaii ama kakak kelas : (
Kita inget masa-masa saat kita kemana-mana masih pake seragam SMP yang kedodoran...
Kita yang selalu grogi ketemu kakak kelas...
Dan di kelas dua lah sebagian besar siswa merasa sok senior. Kan biasanya itu adalah ajang penunjukan jati diri (kalo kelas satu masih alim kan...)
Dan entah kenapa pas kelas dua ini aku malah sibuk search SMA. Karena aku doyan nonton film dan baca novel, kan cerita yang sering diekspos biasanya kehidupan SMA--atau SD (tapi karena kehidupan SDku hitam putih, ya sudahlah...), jadilah aku penasaran. Aku mulai searching di Google. Yang pertama aku ketik ialah :
- SMK WIRA HARAPAN (yep, aku tinggal di Bali). https://smkwiraharapan.sch.id/
- Itu SMK yang fokus ke pariwisata, karena Bali adalah salah satu pulau yang ramai wisatawan. SMK itu juga merupakan SMK terbeken di Bali, juga banyak temen-temenku yang pengen masuk di sana. Aku juga sebenarnya tertaril cuma karena ikut-ikutan doang sih--dan didukung fasilitas dan jurusan yang memadai. Namun cita-cita mulia ku kandas saat orang tuaku menyarankanku untuk masuk SMA. Alasannya sih, biar kuliahnya pasti! PADAHAL SUMPE DAH! GUE DARI SD AJA UDAH MUMET BAHKAN NIAT MOGOK SEKOLAH GEGARA SEABREK TUGAS, APA LAGI KULIAH YANG KUDU NGURUSIN SKRIPSI!!!
Aku nggak begitu tertarik dengan sekolah di Bali. Bukan karena apa-apa, tapi karena SMA yang sesuai kriteriaku itu--#AZEEEKK--nggak ada. Juga karena rumah jauh dari SMA, dan ortuku sibuk banget dan nggak mungkin bisa jemput--aku juga ga bisa naek motor--akhirnya plan B. Sekolah di luar Bali. Mama and Ayah juga punya banyak koneksi di sana--karena kami bukan Bali asli. Akhirnya ada beberapa sekolah incaranku. Yaitu :
- SMAK ini aku tau dari brosur yang tergeletak dengan manisnya di meja kerja Ayahku. Karena aku pada dasarnya memang memiliki kadar keKEPOan yang melebihi manusia normal, aku membaca brosur itu. Brosur tentang SMAK St. Maria Jogjakarta. Aku melihat fasilitasnya, ekstrakurikuler, ketentuan beasiswa... Oke lah. Sepertinya aku bisa #PDmaksimalYes-Yes ! Aku tertarik banget kan nih.... Namun harapanku pupus seketika saat teman ku (yang satu tingkat di atasku dan kakaknya sekolah disana) berkata: "Itu lho sekolah khusus cewek..." WHAT?!! Oh, gitu. Hah? Bukannya apa-apa nih, tapi KHUSUS CEWEK? Gersang nih. Udah ah, cancel!
3. SMAK St. ALBERTUS-MALANG (SMA DEMPO) www.st-albertus.sch.id/
- Yang ini juga aku tau dari temen. Setelah beberapa lama berhenti stalk tentang SMA, seorang temanku memberi kabar daebak.
Gue : (muka bego ga niat idup) Ga tau. Kamu?
Dia : SMA Dempo yok! Sekolah katolik lho! Tempatnya bagus, strategis di tengah kota, banyak events, ada asramanya lho.... and blablabla
Gue : (tertarik) Eh, seru tuh! Mahal kagak?
Dia : Iya sih. Sekolah bagus coeg! Ekskulnya banyak...fasilitasnya bagus! Coba search!
Gue : Berapa asramanya?
Dia : 10 Jt,
Gue : Eng..ing...eng....
Akhirnya setelah dialog panjang lebar itu aku pun tertarik banget. Doi juga ngajakin ngekost bareng. Bakal asyik tuh! Jauh dari ortu! ASTOGEH!!! Kami juga sama-sama anak wushu, jadi oke lah... Aku pun rajin search di Google bahkan sampai instagramnya. Fasilitsanya emang keren, banyak events, kegiatannya asik! Aku juga bilang ke ortu ku, dan mereka sih ngijinin aja, namun Mama sempet nanya, "Kenapa nggak di Jogja aja? Kan banyak pilihannya..."
Aku tetep kekeuh. Dan semenjak mendapat pencerahan dari teman tersayangku itu, satu hal yang nancep dengan kuat di kepalaku adalah: DEMPO IS MY DREAM. Gimana pun caranya aku harus pertahankan jabatanku sebagai 'Pemegang Tetap Ranking Dua di Kelas B'. Aku sih cukup PD, mengingat prestasiku itu, dan temenku itu juga bilang, "Kalo ranking 10 besar dari kelas VII ampe IX bisa dapet beasiswa lho!"
Nah, saya kan tiga besar tuh! Aku juga ngajakin salah satu sohibku, sebut saja Pookie (emang itu julukan dari ku), dia emang cocok dan sepemikiran banget sama aku dan doi. Si Pookie ini peraih juara ketiga di kelasku, so, kami emang deket bahkan berjuang bareng. Kami bertiga berencana ngekost bareng, mikirin masa depan--mulai dari : kostan yang murah, bawa barang apa aja, apa aja yang harus kita siapin. Padahal kami masih kelas dua.
Namun semuanya berubah saat temen ku yang ngajakin itu ga diijinin sama ibunya. Yep, doi emang kurang mampu secara finansial, so maklum lah. Yo dah lah, akhirnya aku dan Pookie yang masih kekeuh. Tapi di tengah jalan, aku menyadari satu hal : aku belum tau fasilitas dan hal lain secara pasti di sana, alias belum punya gambaran. Cari yang lain dulu deh!
4. SMAK St. MIKAEL--JOGJAKARTA www.smamikaelyogya.sch.id/
- Beralih ke Jogja beneran nih, menurut kata ortu. Aku tertarik sama SMA ini karena iseng-iseng browsing. Ekskulnya bagus, lokasi lumayan, fasilitas oke.... Dan dalam satu hari browsing, aku fall in love. Yah, maklum bocah amatiran yang labil! Aku pun bilang ke ortuku (lagi). Percakapan itu terjadi di dalam mobil, malam-malam sepulang latian koor di gereja (detail amat yak?). Dalam mobil itu nggak cuma ada aku, Ayah dan Mama doang, tapi di kursi paling belakang ada adekku yang lagi--entahlah....dia figuran. "Yah, Mah, aku mau deh sekolah di Jogja!" Sontak mereka ngakak. Gimana dulu aku--dari SMP--udah disaranin di Jogja sama nenek selalu nolak mentah-mentah, dan sekarang dengan tegasnya aku ngomong gitu!
Ayah tanya, "Mau di mana emangnya?" Aku menjawab dengan ragu--namun dalam hati amat sangat mantap--"SMA st. Mikael kayanya bagus!" Mama menimpali, "Yang itu? Bener?"
Ayah, "Hahahhhaaa...itu sih kalah saing lah!"
Gue, "Terus dimana?"
Mama, "Stella Duce? Itu bagus lho!"
Gue, "Khusus cewek kan? Emoh! Pasti ribut entar!" dlm hati: gersang Ma! Gersang!
Mama, "Biara aja! Sama eyang suster!"
Gue, "Emoh! Aku kan orangnya nggak religius amat!"
Ayah, "Oh, Van Lith? Itu sekolah favorit tuh! Dulu kan Ayah jadi pembimbing di sana. Banyak kegiatannya, ada Katekese, ini, itu , ono...."
Aku mulai tertarik (lagi).
Gue, " Eh boleh deh! Di sana ya... Kayanya bagus!"
Ayah, "Bagus lah, duitnya aja bagus..."
Gue, "Emang berapa?"
Mama, " Halah, nggak usah mikirin! Mau nggak nih?"
Dan endingnya aku memilih....
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
5. SMAK PANGUDI LUHUR VAN LITH--MUNTILAN vanlith-mtl.sch.id/
- Itu SMA yang beneran bagus gess.... Anaknya guruku (yang emang pinter) juga alumni sana, and sekarang doi fak. Hukum S2 lho! Bahkan pak guruku itu sempet promote tentang Van Lith di kelas... Hehe, makin yakin deh saya! Dan Pookie, yang juga ku ajakin makin percaya. Aku juga sering search di Google. Ini sekolah keren amat deh! SPPnya juga tergantung sikon siswa, ada asrama yang--kayaknya--friendly, kerohanian yang kuat--itung-itung tobat--kegiatannya asyik dan berbobot. Ditambah lagi, ortu juga dukung! Testnya padat dan ketat (membuktikan kalau itu sekolah elite beneran). Dari ribuan bocah yang daftar, cuma 200 yang diterima! 20 persen doang! Makin nggak sabar deh!
Ya udah lah, akhirnya aku deal di Van Lith, dan tanpa Pookie, mai lafli bezfren. Semoga aja untuk kedepannya berhasil masuk di sana!
Dear kalian, sebaiknya udah siapin yang beginian sejak awal, biar nggak keburu-buru nantinya. Tapi jangan rempong kaya aku juga. Bentar-bentar batal. Tetap konsisten dan percaya diri juga jangan takut mencoba, karena kamu sendiri yang menentukan masa depanmu--dan bukan takdir, iya kali!
KEEP FIGHTING GUYS!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar