Dan pasti, naskah drama yang dibuat bertema-nggak jauh-dari sekolah, persahabatan, keluarga, dan tema-tema mainstream lainnya. Mau coba bikin naskah drama yang menantang?
Ini dia!
Drama ini diambil dari drama klasik The Phantom Of The Opera
Drama ini diambil dari drama klasik The Phantom Of The Opera
KUTUKAN HANTU OPERA
TOKOH:
v Christine dalam drama, dan Lucy
v Phantom dalam drama, dan Damian (Tersangka 1)
v OJ (Tersangka 2)
v Polisi
v Daniel (Detektif)
v Eliza
v Gil
The Phantom of the Opera.
Begitulah judul drama yang sedang dipentaskan di SMPK Thomas Aquino. Konon,
drama itu dikutuk, dan jika drama itu dipentaskan, para pemain akan mati. Tahun
ini, sekolah mementaskan drama itu untuk pertama kalinya. Tokoh Phantom
diperankan oleh Damian, dan tokoh Christine diperankan oleh Lucy, siswa cantik,
popular dan pintar.
Di tengah drama…..
Christine
: Phantom, lorong-lorong ini
berliku-liku. Kemana kamu akan membawaku?
Phantom : Kita akan ke rumahku. (memeluk Christine)
Christine : Ke rumahmu? Memangnya, apa yang ingin
kau lakukan?
Phantom : Tenang saja. Kamu aman bersamaku.
Christine : (menjauh)
Tapi, justru aku takut padamu.
Phantom : Aku tidak akan menyakitimu.
Percayalah padaku!
Christine : Mana mungkin aku percaya! Semua fakta
begitu jelas! Sekarang, tunjukan wajah aslimu!
Phantom : Memangnya, aku pernah menyakitimu? (Christine mundur ketakutan) Aku memang
sudah menyakiti banyak orang. Tapi bukan dirimu. Karena…
Tiba-tiba, sesosok bayangan gelap menarik Christine.
Damian
(P) : (berbisik) Loh? Lucy? (keluar)
Di
belakang panggung, Damian meninggalkan perannya sebagai Phantom dan mencari Lucy.
*******
Dua
orang berpakaian serba hitam sehingga identitasnya tidak diketahui menyeret
Lucy (Christine) lalu menganiaya dia.
Hitam
1 : Halo Christine! Ini aku,
Charlotta. Aku akan menyingkirkanmu! Kali ini kamu sendirian, tanpa Phantom!
Lucy : Ah… Lepasin! (terisak)
Hitam
2 : Aku Raoul, tapi kali ini,
aku membencimu!
Hitam
1 : Kalo lo berani teriak, (menempelkan ujung pisau di pelipis Lucy)
*******
Polisi
dan Daniel (detektif+siswa) datang
dengan wajah interrogative.
Daniel : Sekarang gimana?
Polisi : Entahlah. Lucy menghilang
secara misterius, apalagi di tengah drama.
Daniel : Pelakunya pasti adalah orang di
dekat panggung!
Tak
lama kemudian, terdengar suara teriakan.
Daniel : Itu suara Lucy! (berbisik) Dan itu Damian, si Phantom!
Damian : Lucy ilang!
OJ :
Ck! Gue udah bilang kan? Tapi kalian aja yang bandel! (sinis) Drama itu terkutuk, dan kalian juga tau kan? atau emang kalian yang pengen cari mat?
Polisi : Sebentar. Kita perlu interogasi.
Damian (menunjuk). Kamu tokoh yang
tadi main sama Lucy kan?
Damian : Iya.
Polisi : Kamu tau dia di mana? (curiga)
Damian : Gue memang di panggung sama dia.
Tapi gue nggak tau apa-apa. Dia ngilang gitu aja.
Polisi : Tapi panggung adalah pusat perhatian.
Nggak mungkin ada momen yang tak terlihat oleh penonton.
Daniel : Dan ‘kemungkinan’ si pelaku
adalah orang di atas panggung. (berpaling
pada OJ) OJ. Lo ada di mana saat kejadian?
OJ : Gue ada di kantin. Gue
nggak minat sama drama yang dikutuk. Terlibat sama dengan cari mati! (ketus)
Polisi : Dari jawabanmu, (nada curiga) bukan nggak mungkin kalau
kamu pelakunya!
OJ : Kok nuduh?!
Polisi : Karena dari awal, kamu sudah
menunjukan kebencian kepada Lucy!
Daniel : Eh iya! Tadi gue liat bayangan item
pergi ke arah sana (menunjuk pintu).
Memang kurang pasti, itu manusia atau bukan.
Polisi : Kita ke sana!
******
Di
lorong-lorong sekolah…
Daniel : Kemana nih?
Damian : Bentar. Drama, itu bertema musik,
kan? Kebanyakan latarnya diambil di ruang musik, berarti….
Polisi : Kamu tau lokasinya?
Daniel : Dari setiap kalimat lo tadi, itu
seperti menunjukan makna tersirat, gitu!
Damian : Bukan! Maksud gue, bisa aja Lucy
disekap di ruang musik.
Di
ruang musik, ruangan begitu gelap dan pengap. Ruangan itu tanpa penerangan
sehingga suasana begitu remang-remang.
Polisi : Eh, (menyorot menggunakan senter) Itu jejak kaki?
Daniel : Iya. (jeda sesaat) Bentar. Ini jejak sepatu lo, OJ?
OJ menyangkal.
Daniel : Cuma lo yang punya sepatu kayak
gini! Dan tadi lo juga nggak di auditorium!
OJ : Liat aja nanti! (menghantam tumpukan kardus bekas)
Saat kardus itu terbongkar…
All : Lucy!
Lucy terkapar di lantai dengan pose
yang-nggak banget. Banyak luka sayatan dan memar-memar ditubuhnya. Topengnya
terlepas dan wajahnya berdarah.
OJ : Ini jelas bukan gue
pelakunya! Gue nggak sesadis ini!
Damian : Luka-luka ini baru, sedangkan kita
udah sama kalian dari tadi kan?
Daniel : Tunggu! Liat!(menunjuk bercak darah dengan cap telapak tangan)
Polisi : Itu sulit diselidiki. Pelaku
pasti memakai sarung tangan. Eh, sarung tangan… (menatap tajam kepada tangan Damian)
Damian : Ehm. Ini… bukan, bukan gue kok! Gue
Phantom kan? Harus pake sarung tangan dong!
Daniel : Gue semakin yakin kalo lo berdua
pelakunya!
Polisi : Wait! Liat! (mencabut kertas di samping Lucy) From
Charlotta and Raoul.
Damian : Hah? Charlotta?
Hitam 1 masuk, kali ini dengan seragam
biasa. Ruangan mulai terang.
Hitam
1 : Gue lah, Charlotta!
Semua : ELIZA?!
Eliza
(H1) : Kaget? Gue yang ngusulin
drama ini lho!
Hitam
2 : Dan gue Raoul! Bersama
Eliza, gue yang bikin kejutan ini!
Daniel : Gil? Jadi kalian, si item yang
tadi gue liat?
Eliza : Ck! Dasar bodoh!
Petunjuk-petunjuk yang kita kasih itu kan jelas! Tapi kalian masih bingung
juga?
Gil : Eliza, mereka kan nggak sepinter
kita, inget?
Polisi : Tunggu! Kalian juga yang
menyiksa Lucy?
Eliza : Menurut lo? Woy! Dalam drama,
Charlotta ingin menyingkirkan Christine kan? Gue sengaja, memilih tokoh
Christine biar bisa bunuh manusia lemah di bawah situ.
Gil : Eliza bisa aja minta peran
Christine, juga dia bisa aja ngatur biar gue Phantomnya!
Damian : Jadi, Charlotta justru lebih kejam,
bahkan dari pada Phantom, si Hantu Opera?
Eliza : Dan lebih pintar!
OJ : Kalian menggunakan rumor
Kutukan Hantu Opera untuk mencelakai Lucy?
Tiba-tiba, sesuatu mengenai kepala Eliza.
Lucy : Siapa bilang gue udah mati? (berusaha bangkit)
Damian : Ih, mayat hidup!
Lucy : Pertarungan kita belum selesai
Eliza! Dasar musuh dibalik selimut! (menhujamkan
pisau)
Eliza : (menahan tangan Lucy) Gue bukan pengecut Lucy! Selama ini gue udah
terang-terangan nunjukin kalo gue muak sama lo! Gue muak sama lo yang sok! Sama
lo yang kecentilan! Gue eneg sama muka lo! MENDINGAN LO MATI AJA!
Gil : Sama seperti Eliza, gue
juga benci sama lo, Lucy! Lo selalu cari muka di depan guru dan berharap kalo
lo punya fans di mana-mana? Lo salah! Lo memang cuma punya dua haters, tapi
kami bisa dengan sekejap bikin lo musnah bagaikan butiran debu! (nada songong warbyasah)
Perlawanan terus terjadi.
Nb* Pemeran yang lain jangan jadi kambing
congek, tapi cobalah teriak histeris, atau apa gitu biar rame!
Eliza : Lucy, makasih karena lo udah
jadi sahabat gue dan pernah singgah di hati gue. (suasana berubah jadi haru) Itu bikin gue sadar kalo kehidupan yang
kelabu bisa jadi berwarna saat seorang malaikat datang dan mewarnai dunia gue.
Juga bikin gue sadar kalo seorang Angel juga bisa jadi perampas kebahagiaan
bagi sahabatnya. Tapi kali ini, malaikat maut yang akan menang! Say good bye to
the world Lucy! (menghujamkan pisau, lalu
Lucy wafat)
Damian : Dasar psikopat! (membunuh Eliza, terserah pake apa aja) Oy,
Gil! Temen lo udah mati! Lo mau ikut?
Gil diringkus
polisi.
*****SELESAI*****
Amanat:
Eliza :
Tokoh Eliza mengajarkan, ‘jika kau memang sahabat sejati, seharusnya kau juga
merasa bahagia saat sahabatmu berhasil. Karena suatu hari nanti, kau akan jadi
seseorang yang amat sangat berarti untuknya’.
Lucy :
Tokoh Lucy mengajarkan, ‘jangan sampai keberhasilan membuat kita lupa diri, dan
melupakan orang-orang yang selalu bersama kita sejak kita berada di titik nol,
hingga ke puncak kesuksesan’.