Animasi bergerak

Jumat, 13 Oktober 2017

Naksir Temen Sekelas?

Oke, curhat lagi nih!


Guys, seperti yang sudah kita ketahui dengan amat sangat baik, SUKA adalah hal yang teramat sangat wajar dalam dunia remaja. Setuju gak?

Nggak peduli mau lo anak paling bengal sampe anak paling alim sekalipun, pasti pernah ngerasain. Entah karena dia pintar, kece, jago main musik, jago olah raga, cakep, atau sifatnya yang bertolak belakang dengan kepribadian kalian, atau apapun itu. 

Yang paling asik itu, naksir sama temen sekelas. kebayang nggak sih, kalo bisa setiap hari memandang wajahnya, ngasih perhatian ke dia, apa lagi bisa sebangku. 
Kan asik? 

Tapi, pernah kepikiran nggak sih untuk ngungkapin?

Yah, pasti pernah. Tapi perlu diingat;
  • Harus berhati-hati. Kenapa? Kan bahaya kalo sampe bocor. Emang mau diledekin sama temen sekelas?
  • Saat masih suka, jangan sampai si doi tau dari orang lain. Kalo lo dilabrak gimana? Syukur-syukur kalo si doi baek!
  • Jangan mengganggu konsentrasi belajar. Nah, ini nggak kalah penting nih!
  • Jangan agresif, ntar dia ilfeel lho!
Nah, kalian pernah mikir nggak sih, kalau rasa suka pada temen apa lagi sahabat justru merusak dan mengganggu pertemanan?  

Contohnya:

  1. Sebelum kamu suka sama dia, semuanya berjalan seperti biasa. Kalian bisa bercanda, main, dan ngobrol kayak biasa.  Fun aja. Tapi semenjak kalian suka sama dia, rasanya beda. Mau ngobrol, deg-degan. Deket-deket, deg-degan. Nggak nyaman kan?
  2. Kamu sering terbawa perasaan. Kalau dia baik atau care, pasti selalu kebayang sampe pagi lagi. Iya kan? Saat dia deket sama orang lain, kamu jadi mudah cemburu dan akhirnya kamu lebih memilih untuk pergi menjauh dari mereka. Nah, saat ini hubungan pertemanan kalian mulai renggang.
  3. Saat ditolak, rasa sakit itu nggak akan pernah hilang dari hatimu. Kalo udah gini, pasti saat liat dia bawaannya sedih mulu. Main nggak enak, bercanda nggak enak. Dan kamu pasti pengen bener-bener pergi dari kehidupannya, atau dia yang ninggalin kamu.
  4. Bahkan saat kalian beneran pacaran pun, rasanya nggak akan sama seperti dulu. Kalian mulai jaim, sok romantis, dan kalau putus, bisa apa? Yakin masih bisa kaya dulu? Bukannya nggak mungkin, tapi nggak banyak yang bisa.
Setelah merenungkan semuanya, yakin masih nganggap kalo friendzone itu menyakitkan?

Well, tapi kalo cuma pengen ngungkapin aja sih no problem. Kaya kasusku (tapi belum terselesaikan).

Jadi begini. Di kelasku, aku suka sama satu cowok yang adalah mantan temen sebangkuku. Berarti pernah deket kan. Orangnya humoris, fun, kadang baik, kocak, anti jaim tapi menghormati cewek, jago olahraga, juga main musik. Oke nggak sih?

Sekarang kami udah nggak sebangku lagi, dan jujur aku kangen banget sama saat-saat itu. Kita yang sering bercanda, bertengkar, rebutan buku, diskusi, kadang juga saling memberi perhatian. Kasus berantem yang masih membekas adalah:

Ceritanya lagi ulangan, dan aku kasih jawaban yang salah lalu dia ngambek. Setelah ulangan....
Dia   : Kok kamu gitu sama aku? Zahad!
Aku  : Ya maaf. Habis kamu nggak jelas mau nanya yang mana. Situ yang salah kan? (nyolot)
Dia   : Aku nggak mau ngomong sama kamu lagi! (drama dimulai)
Aku  : Marah aja sana! Dasar cengeng!
Beberapa menit kemudian, dia ngelucu lagi dan kita ngobrol lagi. Tiba-tiba,
Dia   : blablabla<<<ya nggak? Eh, kok kita ngobrol sih? Kan aku lagi marahan sama kamu?! Sekarang kita marahan lagi!

GOBLOK nggak tuh?

Rasa sukaku sama dia dimulai setelah kita pisah tempat duduk. Anjir nggak sih?
Aku sangat ingin dia tau tentang perasaanku, tapi setelah mendengar sedikit gosip tentang dia yang menyukai sahabatku-yang tentunya lebih oke dari aku-kalian tau gimana rasanya? Dan tentu saja aku udah usaha!

Caranya adalah (bisa dicoba nih!) : 

1. PERHATIAN 
Contohnya: ini asli caraku. Hari itu (atau mungkin setiap hari) dia lagi bokek. Dia lagi duduk dengan pose seperti orang yang menderita lahir batin. 

Aku : Panas-panas gini ngapain kamu?
Dia  : Nggak liat lagi haus?
Aku : Ya minumlah! Ga ada duit? Dasar kere! Nih pake uangku aja dulu! #moduz
nb : itu bukan cuma sekali tapi berkali-kali.

2. YAKINKAN KALO KAMU CARE SAMA DIA
Contohnya: ini caraku lagi. Hari itu dia lagi sakit, dan tetep sekolah, dan kebetulan jam kosong.  Aku mampir ke bangkunya dia dan pura-pura nanya jawaban ke temen sebangkunya-sebut saja A.

Aku : Eh A, kamu tau jawaban no. ini?
A     : Gtw.
Aku : (Berpaling pada doi) Eh, kamu sakit, kok nggak di UKS? (ngelus-elus rambutnya) Aku anterin yuk!

Di UKS, aku dan temenku-tentu aja yang nggak punya potensi untuk nikung-bersama-sama ngerawat dia, selimutin dia, dan sesekali ngobrol. 
Saat aku ngelus-elus rambutnya, aku bilang : Gini-gini aku care lho sama kamu. Nggak kayak temen-temenmu, malah asik sendiri, But don't worry, I'll be there for you.
Dan aku nggak tau, saat itu dia bener dengerin aku ato nggak.

3. BERI PERLAKUAN KHUSUS UNTUK DIA
Contohnya: masih caraku. Dia punya saudari yang hobi banget ngutang. Kebetulan dia juga nggak suka sama saudarinya ini. 
Suatu hari, aku, dan dia lagi ngobrol.
Aku : Eh, adikmu tu suka kali ngutang! Kere bener deh! Suruh bayar gih!
Dia  : Oh, kamu nyindir? Ha? Nyindir?!
Aku : Eh, enggak kok! Kalo kamu sih nggak papa. Aku ngasihnya ikhlas kok. Dari hati...
Harusnya dia paham dengan makna tersirat di balik ucapanku.

4. BIKIN DIA KAGUM SAMA KAMU
Contohnya: caraku lagi. Di kelas, aku dikenal sebagai siswi pintar dan alim (padahal enggak). Nah, kesempatan ini aku pake.
Ceritanya lagi disuruh gambar.
Dia : Eh, gambarin motif dong...
Aku nurut aja dan duduk di sebelah dia sesekali ngelirik. Mataku sipit jadi nggak akan ketauan.
Dia : Wow, keren! Cakep deh gambarmu! Thanks ya.
Hal ini juga terjadi di mapel apapun, so, kalo disuruh bikin kelompok, pasti dia ngajak aku join! 

Dan hingga saat ini dia masih juga belum melirik aku. Kasian ya? Tapi akhirnya, aku mengubah tujuanku. Aku nggak mau pacaran sama dia, tapi aku cuma pengen dia tau kalo aku pernah suka sama dia dan selanjutnya aku pengen bisa deket sama dia seperti dulu lagi. Itu udah lebih dari cukup buatku. 

Kalo untuk kalian yang mau coba, kemungkinan besar berhasil.
Good Luck! 

Selasa, 19 September 2017

DRAMA THRILLER : KUTUKAN HANTU OPERA

Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kata "drama". Sejak SD, pasti kita pernah diberi tugas untuk membuat naskah drama dan mementaskannya, kan?

Dan pasti, naskah drama yang dibuat bertema-nggak jauh-dari sekolah, persahabatan, keluarga, dan tema-tema mainstream lainnya. Mau coba bikin naskah drama yang menantang?

Ini dia!
Drama ini diambil dari drama klasik The Phantom Of The Opera

KUTUKAN HANTU OPERA

TOKOH:
v     Christine dalam drama, dan Lucy
v     Phantom dalam drama, dan Damian (Tersangka 1)
v     OJ (Tersangka 2)
v     Polisi
v     Daniel (Detektif)
v     Eliza
v     Gil


       The Phantom of the Opera. Begitulah judul drama yang sedang dipentaskan di SMPK Thomas Aquino. Konon, drama itu dikutuk, dan jika drama itu dipentaskan, para pemain akan mati. Tahun ini, sekolah mementaskan drama itu untuk pertama kalinya. Tokoh Phantom diperankan oleh Damian, dan tokoh Christine diperankan oleh Lucy, siswa cantik, popular dan pintar.
Di tengah drama…..

Christine         : Phantom, lorong-lorong ini berliku-liku. Kemana kamu akan membawaku?
Phantom         : Kita akan ke rumahku. (memeluk Christine)
Christine         : Ke rumahmu? Memangnya, apa yang ingin kau lakukan?
Phantom         : Tenang saja. Kamu aman bersamaku.
Christine         : (menjauh) Tapi, justru aku takut padamu.
Phantom         : Aku tidak akan menyakitimu. Percayalah padaku!
Christine         : Mana mungkin aku percaya! Semua fakta begitu jelas! Sekarang, tunjukan wajah aslimu!
Phantom         : Memangnya, aku pernah menyakitimu? (Christine mundur ketakutan) Aku memang sudah menyakiti banyak orang. Tapi bukan dirimu. Karena…

Tiba-tiba, sesosok bayangan gelap menarik Christine.
Damian (P)     : (berbisik) Loh? Lucy? (keluar)

Di belakang panggung, Damian meninggalkan perannya sebagai Phantom dan mencari Lucy.

                                                          *******
Dua orang berpakaian serba hitam sehingga identitasnya tidak diketahui menyeret Lucy (Christine) lalu menganiaya dia.
Hitam 1           : Halo Christine! Ini aku, Charlotta. Aku akan menyingkirkanmu! Kali ini kamu   sendirian, tanpa Phantom!
Lucy                : Ah… Lepasin! (terisak)             
Hitam 2           : Aku Raoul, tapi kali ini, aku membencimu!
Hitam 1           : Kalo lo berani teriak, (menempelkan ujung pisau di pelipis Lucy)
*******

Polisi dan  Daniel (detektif+siswa) datang dengan wajah interrogative.
Daniel             : Sekarang gimana?
Polisi                : Entahlah. Lucy menghilang secara misterius, apalagi di tengah drama.
Daniel             : Pelakunya pasti adalah orang di dekat panggung!
Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan.
Daniel             : Itu suara Lucy! (berbisik)  Dan itu Damian, si Phantom!
Damian           : Lucy ilang!
OJ                    : Ck! Gue udah bilang kan? Tapi kalian aja yang bandel! (sinis) Drama itu terkutuk, dan kalian juga tau kan? atau emang kalian yang pengen cari mat?
Polisi                : Sebentar. Kita perlu interogasi. Damian (menunjuk). Kamu tokoh yang tadi main sama Lucy kan?
Damian           : Iya.
Polisi                : Kamu tau dia di mana? (curiga)
Damian           : Gue memang di panggung sama dia. Tapi gue nggak tau apa-apa. Dia ngilang gitu aja.
Polisi                : Tapi panggung adalah pusat perhatian. Nggak mungkin ada momen yang tak terlihat oleh penonton.
Daniel             : Dan ‘kemungkinan’ si pelaku adalah orang di atas panggung. (berpaling pada OJ) OJ. Lo ada di mana saat kejadian?
OJ                    : Gue ada di kantin. Gue nggak minat sama drama yang dikutuk. Terlibat sama dengan cari mati! (ketus)
Polisi                : Dari jawabanmu, (nada curiga) bukan nggak mungkin kalau kamu pelakunya!
OJ                    : Kok nuduh?!
Polisi                : Karena dari awal, kamu sudah menunjukan kebencian kepada Lucy!
Daniel             : Eh iya! Tadi gue liat bayangan item pergi ke arah sana (menunjuk pintu). Memang kurang pasti, itu manusia atau bukan.
Polisi                : Kita ke sana!


******
Di lorong-lorong sekolah…
Daniel             : Kemana nih?
Damian           : Bentar. Drama, itu bertema musik, kan? Kebanyakan latarnya diambil di ruang musik, berarti….
Polisi                : Kamu tau lokasinya?
Daniel             : Dari setiap kalimat lo tadi, itu seperti menunjukan makna tersirat, gitu!
Damian           : Bukan! Maksud gue, bisa aja Lucy disekap di ruang musik.

Di ruang musik, ruangan begitu gelap dan pengap. Ruangan itu tanpa penerangan sehingga suasana begitu remang-remang.
Polisi                : Eh, (menyorot menggunakan senter) Itu jejak kaki?
Daniel             : Iya. (jeda sesaat) Bentar. Ini jejak sepatu lo, OJ?
OJ menyangkal.
Daniel             : Cuma lo yang punya sepatu kayak gini! Dan tadi lo juga nggak di auditorium!
OJ                    : Liat aja nanti! (menghantam tumpukan kardus bekas)
Saat kardus itu terbongkar…
All                    : Lucy!
Lucy terkapar di lantai dengan pose yang-nggak banget. Banyak luka sayatan dan memar-memar ditubuhnya. Topengnya terlepas dan wajahnya berdarah.
OJ                    : Ini jelas bukan gue pelakunya! Gue nggak sesadis ini!
Damian           : Luka-luka ini baru, sedangkan kita udah sama kalian dari tadi kan?
Daniel             : Tunggu! Liat!(menunjuk bercak darah dengan cap telapak tangan)      
Polisi                : Itu sulit diselidiki. Pelaku pasti memakai sarung tangan. Eh, sarung tangan… (menatap tajam kepada tangan Damian)
Damian           : Ehm. Ini… bukan, bukan gue kok! Gue Phantom kan? Harus pake sarung tangan dong!
Daniel             : Gue semakin yakin kalo lo berdua pelakunya!
Polisi                : Wait! Liat! (mencabut kertas di samping Lucy) From Charlotta and Raoul.
Damian           : Hah? Charlotta?
Hitam 1 masuk, kali ini dengan seragam biasa. Ruangan mulai terang.
Hitam 1           : Gue lah, Charlotta!
Semua             : ELIZA?!
Eliza (H1)        : Kaget? Gue yang ngusulin drama ini lho!
Hitam 2           : Dan gue Raoul! Bersama Eliza, gue yang bikin kejutan ini!
Daniel             : Gil? Jadi kalian, si item yang tadi gue liat?
Eliza                : Ck! Dasar bodoh! Petunjuk-petunjuk yang kita kasih itu kan jelas! Tapi kalian masih bingung juga?
Gil                   : Eliza, mereka kan nggak sepinter kita, inget?
Polisi                : Tunggu! Kalian juga yang menyiksa Lucy?
Eliza                : Menurut lo? Woy! Dalam drama, Charlotta ingin menyingkirkan Christine kan? Gue sengaja, memilih tokoh Christine biar bisa bunuh manusia lemah di bawah situ.
Gil                   : Eliza bisa aja minta peran Christine, juga dia bisa aja ngatur biar gue Phantomnya!
Damian           : Jadi, Charlotta justru lebih kejam, bahkan dari pada Phantom, si Hantu Opera?
Eliza                : Dan lebih pintar!
OJ                    : Kalian menggunakan rumor Kutukan Hantu Opera untuk mencelakai Lucy?
Tiba-tiba, sesuatu mengenai kepala Eliza.
Lucy                : Siapa bilang gue udah mati? (berusaha bangkit)
Damian           : Ih, mayat hidup!
Lucy                : Pertarungan kita belum selesai Eliza! Dasar musuh dibalik selimut! (menhujamkan pisau)
Eliza                : (menahan tangan Lucy) Gue bukan pengecut Lucy! Selama ini gue udah terang-terangan nunjukin kalo gue muak sama lo! Gue muak sama lo yang sok! Sama lo yang kecentilan! Gue eneg sama muka lo! MENDINGAN LO MATI AJA!
Gil                   : Sama seperti Eliza, gue juga benci sama lo, Lucy! Lo selalu cari muka di depan guru dan berharap kalo lo punya fans di mana-mana? Lo salah! Lo memang cuma punya dua haters, tapi kami bisa dengan sekejap bikin lo musnah bagaikan butiran debu! (nada songong warbyasah)
Perlawanan terus terjadi.
Nb* Pemeran yang lain jangan jadi kambing congek, tapi cobalah teriak histeris, atau apa gitu biar rame!
Eliza                : Lucy, makasih karena lo udah jadi sahabat gue dan pernah singgah di hati gue. (suasana berubah jadi haru) Itu bikin gue sadar kalo kehidupan yang kelabu bisa jadi berwarna saat seorang malaikat datang dan mewarnai dunia gue. Juga bikin gue sadar kalo seorang Angel juga bisa jadi perampas kebahagiaan bagi sahabatnya. Tapi kali ini, malaikat maut yang akan menang! Say good bye to the world Lucy! (menghujamkan pisau, lalu Lucy wafat)
Damian           : Dasar psikopat! (membunuh Eliza, terserah pake apa aja) Oy, Gil! Temen lo udah mati! Lo mau ikut?
Gil diringkus polisi.

*****SELESAI*****

Amanat:
Eliza    : Tokoh Eliza mengajarkan, ‘jika kau memang sahabat sejati, seharusnya kau juga merasa bahagia saat sahabatmu berhasil. Karena suatu hari nanti, kau akan jadi seseorang yang amat sangat berarti untuknya’.

Lucy    : Tokoh Lucy mengajarkan, ‘jangan sampai keberhasilan membuat kita lupa diri, dan melupakan orang-orang yang selalu bersama kita sejak kita berada di titik nol, hingga ke puncak kesuksesan’.