Animasi bergerak

Selasa, 19 September 2017

DRAMA THRILLER : KUTUKAN HANTU OPERA

Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kata "drama". Sejak SD, pasti kita pernah diberi tugas untuk membuat naskah drama dan mementaskannya, kan?

Dan pasti, naskah drama yang dibuat bertema-nggak jauh-dari sekolah, persahabatan, keluarga, dan tema-tema mainstream lainnya. Mau coba bikin naskah drama yang menantang?

Ini dia!
Drama ini diambil dari drama klasik The Phantom Of The Opera

KUTUKAN HANTU OPERA

TOKOH:
v     Christine dalam drama, dan Lucy
v     Phantom dalam drama, dan Damian (Tersangka 1)
v     OJ (Tersangka 2)
v     Polisi
v     Daniel (Detektif)
v     Eliza
v     Gil


       The Phantom of the Opera. Begitulah judul drama yang sedang dipentaskan di SMPK Thomas Aquino. Konon, drama itu dikutuk, dan jika drama itu dipentaskan, para pemain akan mati. Tahun ini, sekolah mementaskan drama itu untuk pertama kalinya. Tokoh Phantom diperankan oleh Damian, dan tokoh Christine diperankan oleh Lucy, siswa cantik, popular dan pintar.
Di tengah drama…..

Christine         : Phantom, lorong-lorong ini berliku-liku. Kemana kamu akan membawaku?
Phantom         : Kita akan ke rumahku. (memeluk Christine)
Christine         : Ke rumahmu? Memangnya, apa yang ingin kau lakukan?
Phantom         : Tenang saja. Kamu aman bersamaku.
Christine         : (menjauh) Tapi, justru aku takut padamu.
Phantom         : Aku tidak akan menyakitimu. Percayalah padaku!
Christine         : Mana mungkin aku percaya! Semua fakta begitu jelas! Sekarang, tunjukan wajah aslimu!
Phantom         : Memangnya, aku pernah menyakitimu? (Christine mundur ketakutan) Aku memang sudah menyakiti banyak orang. Tapi bukan dirimu. Karena…

Tiba-tiba, sesosok bayangan gelap menarik Christine.
Damian (P)     : (berbisik) Loh? Lucy? (keluar)

Di belakang panggung, Damian meninggalkan perannya sebagai Phantom dan mencari Lucy.

                                                          *******
Dua orang berpakaian serba hitam sehingga identitasnya tidak diketahui menyeret Lucy (Christine) lalu menganiaya dia.
Hitam 1           : Halo Christine! Ini aku, Charlotta. Aku akan menyingkirkanmu! Kali ini kamu   sendirian, tanpa Phantom!
Lucy                : Ah… Lepasin! (terisak)             
Hitam 2           : Aku Raoul, tapi kali ini, aku membencimu!
Hitam 1           : Kalo lo berani teriak, (menempelkan ujung pisau di pelipis Lucy)
*******

Polisi dan  Daniel (detektif+siswa) datang dengan wajah interrogative.
Daniel             : Sekarang gimana?
Polisi                : Entahlah. Lucy menghilang secara misterius, apalagi di tengah drama.
Daniel             : Pelakunya pasti adalah orang di dekat panggung!
Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan.
Daniel             : Itu suara Lucy! (berbisik)  Dan itu Damian, si Phantom!
Damian           : Lucy ilang!
OJ                    : Ck! Gue udah bilang kan? Tapi kalian aja yang bandel! (sinis) Drama itu terkutuk, dan kalian juga tau kan? atau emang kalian yang pengen cari mat?
Polisi                : Sebentar. Kita perlu interogasi. Damian (menunjuk). Kamu tokoh yang tadi main sama Lucy kan?
Damian           : Iya.
Polisi                : Kamu tau dia di mana? (curiga)
Damian           : Gue memang di panggung sama dia. Tapi gue nggak tau apa-apa. Dia ngilang gitu aja.
Polisi                : Tapi panggung adalah pusat perhatian. Nggak mungkin ada momen yang tak terlihat oleh penonton.
Daniel             : Dan ‘kemungkinan’ si pelaku adalah orang di atas panggung. (berpaling pada OJ) OJ. Lo ada di mana saat kejadian?
OJ                    : Gue ada di kantin. Gue nggak minat sama drama yang dikutuk. Terlibat sama dengan cari mati! (ketus)
Polisi                : Dari jawabanmu, (nada curiga) bukan nggak mungkin kalau kamu pelakunya!
OJ                    : Kok nuduh?!
Polisi                : Karena dari awal, kamu sudah menunjukan kebencian kepada Lucy!
Daniel             : Eh iya! Tadi gue liat bayangan item pergi ke arah sana (menunjuk pintu). Memang kurang pasti, itu manusia atau bukan.
Polisi                : Kita ke sana!


******
Di lorong-lorong sekolah…
Daniel             : Kemana nih?
Damian           : Bentar. Drama, itu bertema musik, kan? Kebanyakan latarnya diambil di ruang musik, berarti….
Polisi                : Kamu tau lokasinya?
Daniel             : Dari setiap kalimat lo tadi, itu seperti menunjukan makna tersirat, gitu!
Damian           : Bukan! Maksud gue, bisa aja Lucy disekap di ruang musik.

Di ruang musik, ruangan begitu gelap dan pengap. Ruangan itu tanpa penerangan sehingga suasana begitu remang-remang.
Polisi                : Eh, (menyorot menggunakan senter) Itu jejak kaki?
Daniel             : Iya. (jeda sesaat) Bentar. Ini jejak sepatu lo, OJ?
OJ menyangkal.
Daniel             : Cuma lo yang punya sepatu kayak gini! Dan tadi lo juga nggak di auditorium!
OJ                    : Liat aja nanti! (menghantam tumpukan kardus bekas)
Saat kardus itu terbongkar…
All                    : Lucy!
Lucy terkapar di lantai dengan pose yang-nggak banget. Banyak luka sayatan dan memar-memar ditubuhnya. Topengnya terlepas dan wajahnya berdarah.
OJ                    : Ini jelas bukan gue pelakunya! Gue nggak sesadis ini!
Damian           : Luka-luka ini baru, sedangkan kita udah sama kalian dari tadi kan?
Daniel             : Tunggu! Liat!(menunjuk bercak darah dengan cap telapak tangan)      
Polisi                : Itu sulit diselidiki. Pelaku pasti memakai sarung tangan. Eh, sarung tangan… (menatap tajam kepada tangan Damian)
Damian           : Ehm. Ini… bukan, bukan gue kok! Gue Phantom kan? Harus pake sarung tangan dong!
Daniel             : Gue semakin yakin kalo lo berdua pelakunya!
Polisi                : Wait! Liat! (mencabut kertas di samping Lucy) From Charlotta and Raoul.
Damian           : Hah? Charlotta?
Hitam 1 masuk, kali ini dengan seragam biasa. Ruangan mulai terang.
Hitam 1           : Gue lah, Charlotta!
Semua             : ELIZA?!
Eliza (H1)        : Kaget? Gue yang ngusulin drama ini lho!
Hitam 2           : Dan gue Raoul! Bersama Eliza, gue yang bikin kejutan ini!
Daniel             : Gil? Jadi kalian, si item yang tadi gue liat?
Eliza                : Ck! Dasar bodoh! Petunjuk-petunjuk yang kita kasih itu kan jelas! Tapi kalian masih bingung juga?
Gil                   : Eliza, mereka kan nggak sepinter kita, inget?
Polisi                : Tunggu! Kalian juga yang menyiksa Lucy?
Eliza                : Menurut lo? Woy! Dalam drama, Charlotta ingin menyingkirkan Christine kan? Gue sengaja, memilih tokoh Christine biar bisa bunuh manusia lemah di bawah situ.
Gil                   : Eliza bisa aja minta peran Christine, juga dia bisa aja ngatur biar gue Phantomnya!
Damian           : Jadi, Charlotta justru lebih kejam, bahkan dari pada Phantom, si Hantu Opera?
Eliza                : Dan lebih pintar!
OJ                    : Kalian menggunakan rumor Kutukan Hantu Opera untuk mencelakai Lucy?
Tiba-tiba, sesuatu mengenai kepala Eliza.
Lucy                : Siapa bilang gue udah mati? (berusaha bangkit)
Damian           : Ih, mayat hidup!
Lucy                : Pertarungan kita belum selesai Eliza! Dasar musuh dibalik selimut! (menhujamkan pisau)
Eliza                : (menahan tangan Lucy) Gue bukan pengecut Lucy! Selama ini gue udah terang-terangan nunjukin kalo gue muak sama lo! Gue muak sama lo yang sok! Sama lo yang kecentilan! Gue eneg sama muka lo! MENDINGAN LO MATI AJA!
Gil                   : Sama seperti Eliza, gue juga benci sama lo, Lucy! Lo selalu cari muka di depan guru dan berharap kalo lo punya fans di mana-mana? Lo salah! Lo memang cuma punya dua haters, tapi kami bisa dengan sekejap bikin lo musnah bagaikan butiran debu! (nada songong warbyasah)
Perlawanan terus terjadi.
Nb* Pemeran yang lain jangan jadi kambing congek, tapi cobalah teriak histeris, atau apa gitu biar rame!
Eliza                : Lucy, makasih karena lo udah jadi sahabat gue dan pernah singgah di hati gue. (suasana berubah jadi haru) Itu bikin gue sadar kalo kehidupan yang kelabu bisa jadi berwarna saat seorang malaikat datang dan mewarnai dunia gue. Juga bikin gue sadar kalo seorang Angel juga bisa jadi perampas kebahagiaan bagi sahabatnya. Tapi kali ini, malaikat maut yang akan menang! Say good bye to the world Lucy! (menghujamkan pisau, lalu Lucy wafat)
Damian           : Dasar psikopat! (membunuh Eliza, terserah pake apa aja) Oy, Gil! Temen lo udah mati! Lo mau ikut?
Gil diringkus polisi.

*****SELESAI*****

Amanat:
Eliza    : Tokoh Eliza mengajarkan, ‘jika kau memang sahabat sejati, seharusnya kau juga merasa bahagia saat sahabatmu berhasil. Karena suatu hari nanti, kau akan jadi seseorang yang amat sangat berarti untuknya’.

Lucy    : Tokoh Lucy mengajarkan, ‘jangan sampai keberhasilan membuat kita lupa diri, dan melupakan orang-orang yang selalu bersama kita sejak kita berada di titik nol, hingga ke puncak kesuksesan’.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar